Cerpen - Kini Aku Mencintaimu, Ayah!


Kini Aku Mencintaimu, Ayah!

BAGIKU yang masih berpandangan hitam putih, Ayah yang seharusnya menjadi panutan dan pelindung hidupku, justru tak lainadalah biang keladi dari seluruh kejadian menggiriskan dan nasib buruk yang menimpaku sejak kecil. Karena itulah, aku selalu menolak untuk menemuinya, meski kini ia terpuruk sebagai pesakitan di dalam penjara. Ia yang memisahkan aku dengan ibu dan adikku sejak kecil, ia yang membuatku menderita selama puluhan tahun dibawah jajahan istri mudanya, dan kini ia lagi-lagi membuatku merasa malu dengan menyandang status sebagai nara pidana.
“Kalau bukan kau, lalu siapa lagi yang mau menjenguk ayahmu,” dengan nada bicara yang memelas, paman berusaha meluluhkan tekadku yang tetap berkeras hati tak mau menemui Ayah.
“Siapa tahu, sekarang dia sudah berubah!” lanjutnya. Aku diam saja.
“Kau tidak kasihan sama ayahmu, Ikram?” Aku tetap diam saja. Tapi, sisi lain hatiku sudah mulai luluh. Maka, atas saran dari pamanku yang lebih terdengar seperti perintah, akhirnya aku ke Makassar untuk menjenguk ayah.
***
Ruangan sepi yang dicat dengan warna terang itu tampak sangat bersih dan sejuk. Lantainya keramik polos berwarna putih yang mengilap karena pantulan cahaya matahari yang semburat memasuki ruangan lewat sekat jeruji berulir di dekat langit-langit ruangan. Aku memilih duduk di sebuah bangku panjang yang berhadapan dengan sebuah meja kayu berbentuk segiempat panjang. Duduk sendiri di ruang tunggu yang sepi, hatiku terus berdebar kencang mengantisipasi pertemuanku dengan Ayah.
Tak lama berselang, kulihat seorang petugas berjalan dari ujung selasar. Seorang lelaki bertubuh ringkih mengikutinya. Kupikir, aku masih harus menunggu beberapa saat lagi karena warga binaan yang berjalan ke ruang tunggu bersama petugas itu bukan ayahku. Terakhir aku bertemu Ayah beberapa tahun yang lalu, tubuhnya masih tambun.
Tapi, semakin dekat, semakin jelas kulihat wajah lelaki di belakang petugas itu. Aku hampir tak dapat menggenalinya karena tubuhnya yang terlalu kurus serta jenggotnya yang tampak awut-awutan. Ya, aku tidak salah lihat, lelaki itu adalah Ayah.
Selanjutnya, aku terpaku dengan mulut setengah ternganga. Rangka tubuhku kurasakan seolah runtuh satu persatu, tulang belulangku seakan hendak terlepas dari setiap persendiannya. Melihat kondisi Ayah yang sangat memilukan, kerak-kerak amarah dan gunungan kekecewaan yang selama ini tumbuh subur dalam hatiku perlahan berderak, lalu terburai, dan akhirnya hilang tak berbekas.
Melihatku duduk mematung, Ayah yang seolah tak percaya akan kedatanganku segera menghambur lalu memeluku erat-erat. Ia memelukku dengan rasa haru yang sangat mendalam. Dadanya kurasakan bergemuruh naik turun.
Nafasku tersengal menahan isak, lalu perlahan butiran air mengalir menyusupi kedua pipiku. Secara aneh, rasa simpati pada Ayah tiba-tiba membuncah dalam hatiku. Jujur kuakui, sejak kecil perasaan itu sungguh sulit kutumbuhkan karena ingatan panjangku selalu dipenuhi dengan hikayat buruk tentangnya, dan juga tentang istri mudanya. Namun, betapa pun sejak kecil ia selalu menderaku dengan beragam bentuk penindasan, tapi sekarang ini ayahku adalah hal terbaik yang kumiliki. Tak ada lagi yang tersisa bagiku selain dia.
Perasaan simpatiku kepada Ayah membuncah seketika itu juga. Ayah yang dulu sangat kelabu dalam hatiku, kini kutemukan kembali. Semua hal buruk tentangnya kini perlahan menghilang dari dalam benakku. Aku menangis karena bahagia telah menemukan Ayah yang selama ini hilang dari hidupku.
Sebagian kehidupan masa laluku yang kelam bersama Ayah kini kuterima sebagai bagian dari takdir, dan sesegera mungkin ingin kulupakan dan tak ingin kukenang lagi. Aku kasihan melihat kondisi Ayah yang sangat terpuruk, dan juga tubuhnya yang menyusut sangat drastis. Ayah mengenakan celana panjang dan kemeja lengan panjang kumal yang lengannya digulung sampai siku. Bahunya terlihat menyempit, sulur-sulur urat bermunculan di lengannya yang semakin kurus. Keningnya melesak, bola matanya terlihat cekung dan keruh. Ekspresi wajahnya tidak lagi sangar seperti yang selama ini kukenal, tetapi tetap jauh seperti sesuatu yang mustahil untuk kutembus.
Ayah masih duduk dan terlihat kaku di kursinya dengan bahu melorot. Kedua kakinya disilangkan di bawah kursi, di bawah perutnya yang tak lagi buncit seperti dulu. Ayah tertunduk seolah-olah ingin membenamkan wajahnya ke permukaan meja. Ia kini tampak seperti lelaki tua yang mengutuki hidupnya sendiri dan semua kesalahan masa lalunya. Meski tak kasat mata, dengan jelas aku bisa melihat kumpulan aib perlahan membumbung dari benak Ayah, seperti asap.  Rasa bersalah dan malu terlihat jelas menguasai pikirannya. Semua kelakuan buruk yang pernah ia lakukan padaku, juga pada ibu dan adikku seolah telah disusun rapi oleh suatu kekuatan gaib, tercatat secara sempurna dalam kitab penciptaan-Nya, dan kini balasan pantasnya ditimpakan secara terang-terangan di sekujur tubuh Ayah sebagai karma.
Ayah terlihat gemetar menanggungkan rasa sedih yang teramat dalam. Setelah puluhan tahun jarum jam kewarasannya lumpuh sebagai seorang ayah yang seharusnya melindungiku dan membahagiakanku, kini jarum itu berdetak kembali. Dengan matanya yang sembap Ayah menerawang jauh seolah sedang men-tadabburihikmah yang bisa ia petik dari setiap pengalaman buruk hidupnya. Pandangannya terlempar jauh menembus tebalnya tembok-tembok penjara.
Ayah sesegukan sambil mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Hanya sesekali ia berpaling padaku dengan wajah yang sembab. Matanya yang semerah saga tak mampu membendung genangan air yang terus menerus menetes tanpa henti. Aku yang terisak-isak disampingnya hanya bisa diam sambil memegangi kedua lututku. Hatiku luruh melihat Ayah yang kini tak mampu berbuat apa-apa selain mengasihani dirinya sendiri. Ayah duduk terpekur di sampingku seperti merenungi nasib dan jati dirinya yang terenggut.
Beberapa saat, kami hanya duduk mematung nyaris tanpa jarak di atas sebuah bangku panjang, sebelum Ayah memutar badannya lalu duduk menghadap ke arahku. Tatapan Ayah nyaris tak dapat kuterjemahkan. Aku tahu kini perasaan Ayah hancur berkeping-keping, dan semua itu membuatku membeku di tempatku duduk dengan dada yang sesak. Aku benar-benar luruh melihat Ayah. Di antara lelah jiwa dan keresahan batinnya, Ayah tampak di mataku seperti lelaki rapuh yang terbuang.
Selama beberapa menit kami duduk bersama, Ayah lebih banyak diam, tengggelam dalam kebisuan panjang dengan wajah membeku. Pancaran sinar matanya menyimpan rasa pedih dan kekalutan jiwa yang sangat dalam. Dua kelopak matanya mengerut dan cekung kehitam-hitaman. Pandangannya yang keluh seolah menyiarkan satu pertanda bahwa daya hidup dalam dirinya sudah mulai redup, bahkan hampir padam. Ekspresi wajahnya menampakkan kerisauan hati yang teramat sangat akibat tekanan batin yang tak tertanggungkan.
Beberapa menit hidup kami yang bisu karena lena dibius rasa haru yang mendalam, akhirnya terpecah saat Ayah mulai angkat bicara.
“Ayah tidak menyangka kau mau datang ke sini, Ikram..!!” Di sela sisa-sisa isak tangisnya, Ayah menyatakan kegembiraannya atas kedatanganku. Ucapannya terseret-seret seolah ada yang membebani setiap kata-katanya.
“Ayah sudah hampir setahun di sini..!” Ayah masih terdengar bersusah payah mematut-matut kalimatnya.
Aku sendiri belum mampu mengucapkan sepatah kata pun. Aku masih dikuasai oleh rasa sedih yang teramat sangat melihat ayahku seolah-olah dicampakkan oleh tangan nasib ke dalam belenggu penjara. Rasa sedih yang menggeletar itu memenuhi setiap rongga dadaku. Yang bisa kulakukan hanya duduk menumpukan kedua siku di atas meja, jari jemari kedua tanganku saling berpagut erat. Air mataku tak henti-henti berderai.
Saat waktu membesuk akan berakhir, Ayah kembali memelukku erat-erat. Kuat sekali ia memelukku hingga degup jantungnya yang berdegup-degup bisa kurasakan dengan sangat jelas. Beban hidup teramat berat yang menguasai perasaan Ayah juga kurasakan menjalar ke sekujur tubuhku. Saat kucium tangannya, Ayah menggenggam tanganku kuat-kuat seolah tidak ingin aku pergi meninggalkannya. Tiba-tiba hatiku terasa sangat dingin, lalu pipiku kembali basah.
Satu kilatan pahit kutangkap dari pandangan Ayah saat ia berbalik melihatku sebelum beranjak pergi. Lewat pandangannya itu ia seakan-akan ingin menumpahkan semua penderitaan batinnya yang terpuruk tanpa belas kasihan. Aku sangat memakluminya karena di balik jeruji penjara ini, Ayah tak lebih dari lelaki terbuang yang kebebasannya terpasung, yangtidak memiliki pilihan hidup bahkan yang paling getir sekalipun.
Ayah lalu berjalan pelan meninggalkan aku, dan kuikuti setiap inci langkah gontainya. Semakin jauh langkah Ayah meninggalkanku, ruang hampa yang menyesaki relung hatiku semakin mengembang. Saat ia melewati jeruji besi kokoh yang membatasi sel penjara dan ruang tunggu, seorang petugas menutup rapat jeruji itu. Aku kembali tersedu-sedan memandangi punggung kurus ayahku yang terus berjalan hingga ia berbelok di sebuah tikungan menuju kamar selnya. Hatiku terasa remuk redam. Andai masih bisa, aku ingin berlari memeluknya sekali lagi.
Dulu, aku pernah membenci lelaki itu, tapi sekarang, baru beberapa detik ia meninggalkanku, aku sudah sangat merindukannya sampai dadaku sesak. Sebesar apa pun kesalahan yang pernah ia perbuat padaku, tak dapat kupungkiri bahwa ia tetap ayah kandungku. Setiap jengkal tubuhku berasal dari setiap jengkal tubuhnya.
***
Karya: Ust. Muhammad Akis

0 Response to "Cerpen - Kini Aku Mencintaimu, Ayah!"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel