Pengertian Interaksi Sosial: Tujuan, Manfaat, Bentuk-Bentuk, Kerjasama dan Konflik

Kali ini kita akan membahas pengertian dan tujuan interaksi sosial; mendeskripsikan bentuk-bentuk interaksi sosial, mendeskripsikan berkembangnya keteraturan sosial, dan menjelaskan terjadinya konflik dan kerja sama dalam proses interaksi sosial.

Interaksi, yaitu hubungan saling mempengaruhi. Hubungan antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok yang dapat menimbulkan pengaruh satu sama lain.



Wujud pengaruh dalam interaksi antara lain meniru cara-cara orang lain berpakaian, berbicara, bertingkah laku, berjalan, beraksi, dan sebagainya. Adapun yang dimaksud interaksi sosial, yaitu suatu proses berhubungan dan saling mempengaruhi antara manusia, baik sebagai individu atau kelompok, atau antarindividu dengan kelompok.

Yang dimaksud tindakan interaksi sosial adalah langkah-langkah yang diambil oleh orang perorangan atau kelompok yang saling mempengaruhi dalam mengadakan hubungan. Hal-hal yang paling penting dalam interaksi sosial adalah pengaruh timbal balik.

Contoh interaksi yang paling jelas adalah antara A dan B yang sedang berbicara. A berbicara dan B mendengarkan. B memberikan reaksi terhadap apa yang diucapkan A, demikian pula sebaliknya. Proses saling mempengaruhi itu dapat kita pahami dari kata interaksi itu sendiri.

Pengertian Interaksi Sosial

Secara harfiah interaksi berarti tindakan (action) yang berbalasan antarindividu atau antarkelompok. Tindakan saling mempengaruhi ini seringkali dinyatakan dalam bentuk simbol-simbol atau konsep-konsep.

Jadi, pengertian interaksi sosial, yaitu hubungan timbal balik yang dinamis antara individu dan individu, antara individu dan kelompok, atau antara kelompok dengan kelompok baik dalam kerja sama, persaingan, ataupun pertikaian.

Interaksi sosial melibatkan proses-proses sosial yang bermacam-macam, yang menyusun unsur-unsur dinamis dari masyarakat, yaitu proses-proses tingkah laku yang dikaitkan dengan struktur sosial.

Interaksi sosial ini dapat terjadi di pasar, di ladang, dalam rapat, atau di mana saja karena memang di dalam interaksi sosial, lokasi terjadinya tidak penting.

Oleh sebab  itu,  dapat  dikatakan  bahwa  interaksi  sosial  merupakan suatu proses fundamental dalam masyarakat. Tipe-tipe interaksi itu sangat mempengaruhi ciri-ciri masyarakat, tetapi interaksi itu juga dipengaruhi oleh norma-norma sosial yang ada di masyarakat.

Ciri-ciri interaksi sosial sebagai berikut.
a. Dilakukan dua orang dan ada reaksi dari pihak lain.
b. Adanya kontak sosial dan komunikasi.
c. Bersifat timbal balik, positif, dan berkesinambungan.
d. Ada penyesuaian norma dan bentuk-bentuk interaksi sosial.
e. Pola interaksi sosial terjalin dengan baik harus berdasarkan kebutuhan yang nyata, efektivitas, efisiensi, penyesuaian diri pada kebenaran, penyesuaian pada norma, tidak memaksa mental, dan fisik.

Dalam interaksi sosial menurut Drs. Haryanto ada dua hubungan sebagai berikut.
a. Tingkat hubungan yang dalam, yaitu bila interaksi berlangsung terus-menerus dan tidak terbatas, sama-sama memiliki tujuan tertentu.
Contoh: hubungan orang tua dengan anak, kakak dengan adik.
b. Tingkat hubungan yang dangkal, yaitu bila berlangsung hanya saat tertentu dan tidak berkesinambungan.
Contoh: kondektur.

Tujuan Interaksi Sosial

Proses interaksi dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung misalnya melalui tatap muka langsung. Secara tidak langsung dapat melalui sarana-sarana komunikasi misalnya surat, radiogram, telepon, dan interlokal.

Tujuan dari interaksi sosial sebagai berikut.
a. Untuk menjalin hubungan persahabatan.
b. Untuk menjalin hubungan dalam bidang perdagangan.
c. Untuk melaksanakan kerja sama yang saling menguntungkan.
d. Untuk membicarakan dan merundingkan sesuatu masalah yang timbul.
e. Untuk meniru kebudayaan orang lain yang lebih maju dan lain-lain.

Dasar Interaksi Sosial

Berlangsungnya suatu proses interaksi didasari oleh faktor-faktor imitasi, sugesti, identifikasi, dan simpati. Faktor-faktor tersebut dapat bergerak sendiri-sendiri secara terpisah atau dalam keadaan yang bergabung.

a. Faktor Imitasi

Faktor imitasi dapat mendorong seseorang untuk memusuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku, tetapi juga bisa mengakibatkan terjadinya hal-hal yang negatif, sebab yang ditiru mungkin tindakan-tindakan yang menyimpang.

b. Faktor Sugesti

Faktor ini berlangsung kalau seseorang memberi sesuatu pandangan yang berasal dari dirinya, yang kemudian diterima oleh pihak lain. Berlangsungnya sugesti, dapat juga terjadi karena pihak yang menerima dilanda oleh emosi.

c. Faktor Identifikasi

Identifikasi, yaitu kecenderungan atau keinginan-keinginan dalam diri seseorang untuk menyamakan dirinya dengan pihak lain. Identifikasi bersifat lebih mendalam daripada imitasi dan sugesti. Proses identifikasi dapat berlangsung dengan sendirinya ataupun dengan disengaja.

d. Faktor Simpati

Simpati, yaitu suatu proses di mana seseorang merasa tertarik kepada pihak lain. Di dalam proses ini perasaan seseorang memegang peranan yang sangat penting. Proses simpati akan dapat berkembang jika terdapat saling pengertian pada kedua belah pihak.

Kontak Sosial dan Komunikasi Dalam Interaksi Sosial

a. Kontak Sosial

Kontak merupakan tahap permulaan dari terjadinya interaksi sosial. Kontak sosial tersebut dapat berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu sebagai berikut.
1) Antara orang-perorangan, misalnya kalau anak kecil mempelajari kebiasaan-kebiasaan dalam keluarga.
2) Antara orang-perorangan dengan suatu kelompok manusia atau sebaliknya, misalnya antara partai politik dengan anggotanya.
3) Antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya, misalnya dua buah kontraktor saling kerja sama memborong bangunan.

Suatu kontak dapat juga bersifat primer atau sekunder.
1) Kontak primer terjadi kalau yang mengadakan hubungan langsung berhadapan dan bertemu muka dengan berjabatan tangan, saling tersenyum, dan lain-lain.
2) Kontak sekunder terjadi kalau disertai perantara.

b. Komunikasi

Komunikasi terjadi kalau seseorang memberi arti pada perlakuan orang lain dengan menyampaikan suatu perasaan. Orang yang bersangkutan lalu menerima dan memberi reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang tersebut.

Pentingnya kontak dan komunikasi, yaitu untuk terwujudnya interaksi sosial dan dapat diuji terhadap suatu kehidupan terasing (isolation). Adanya kehidupan terasing yang sempurna terjadi, kalau ditandai dengan ketidakmampuan untuk mengadakan interaksi sosial dengan pihak-pihak lain.

Adanya kehidupan terasing dikarenakan secara badaniah mereka memang diasingkan dari hubungan dengan orang lain. Padahal perkembangan jiwa seseorang banyak ditentukan oleh pergaulan dengan orang lain.

Apabila seorang anak sejak kecil diasingkan dari pergaulan dengan orang dan berdekatan dengan hewan, misalnya berada di hutan, berakibat kelakuannya mirip dengan hewan. Anak tersebut tak dapat berbicara, perkembangan jiwanya jauh terbelakang.

Terasingnya seseorang menurut Drs. Achmadi dapat disebabkan:
1) karena pengaruh dan perbedaan ras atau suku,
2) adanya perbedaan tingkat kebudayaan,
3) daerahnya sangat terpencil jauh dari kehidupan,
4) pada masyarakat yang berkasta di mana gerak vertikal sangat sulit, dan
5) adanya cacat indera, syaraf, lumpuh yang terpaksa mengurung di rumah atau pengasingan.

Interaksi  Sosial  Kebutuhan Manusia

Manusia dalam hidupnya selalu berhubungan dengan lingkungan alam (fisik) dan lingkungan non fisik. Lingkungan fisik terdiri atas air, tanah, udara, flora, dan fauna. Lingkungan non fisik terdiri atas lingkungan sosial, ekonomi, dan budaya.

Alam menyediakan segalanya bagi kebutuhan hidup manusia, tetapi alam juga mempunyai keterbatasan. Pada saat manusia belum berkembang sebanyak seperti sekarang, keseimbangan antara kebutuhan manusia dan tersedianya kebutuhan itu boleh dikatakan hampir tidak masalah, namun pada saat mulai terjadi ledakan penduduk, manusia mulai menyadari bahwa alam tidak selamanya dapat menyediakan segala bentuk kebutuhan manusia.

Beberapa jenis kebutuhan manusia memang mengalami pembaruan melalui proses daur ulang, namun akibat pengaruh manusia proses tersebut mengalami gangguan keseimbangan.

Adanya pencemaran air, tanah, udara, perusakan hutan, dan lain-lain merupakan contoh dari akibat pengaruh manusia yang dapat merusak keseimbangan alam.

Bertambahnya jumlah manusia berarti bertambah pula kebutuhan yang harus dipenuhi, seperti tempat tinggal, makanan, pekerjaan, transportasi, dan sebagainya.

Dengan adanya pertumbuhan penduduk yang pesat juga akan berakibat pada bidang ekonomi, di antaranya pendapatan, kemiskinan, dan kegiatan ekonomi manusia. Demikian pula pertambahan penduduk yang pesat juga akan mempengaruhi perubahan budaya manusia di antaranya perubahan pola hidup dari keluarga besar menjadi pola keluarga kecil.

Di samping ada perbedaan tentang jumlah dan macam kebutuhan bagi setiap golongan masyarakat atau negara, juga kebutuhan-kebutuhan yang bersifat universal, yaitu kebutuhan semua orang di seluruh dunia sepanjang hayatnya.

Misalnya: makanan, pakaian, perumahan, kesehatan, olahraga, rasa aman, kebutuhan biologis, dan kebutuhan religius. Bagi masyarakat modern, pendidikan sudah merupakan kebutuhan yang pokok dan universal, tetapi bagi masyarakat suku terasing (primitif), pendidikan belum merupakan kebutuhan pokok.

Kebutuhan universal tersebut harus terpenuhi. Apabila tidak terpenuhi maka akan mengakibatkan hal-hal yang tidak menguntungkan, misalnya: orang yang lapar kalau tidak segera makan akan pingsan atau sakit; orang sakit kalau tidak segera berobat bisa mati; orang yang tidak memiliki pakaian dan perumahan, kalau tidak segera memperolehnya akan menjadi orang yang tidak terhormat.

Meskipun demikian kebutuhan-kebutuhan manusia itu mempunyai beberapa ciri umum sebagai berikut.
a. Kebutuhan itu ada yang munculnya disadari dan ada yang tidak disadari.
b. Kebutuhan satu dengan kebutuhan yang lain itu  bervariasi  tingkat intensitasnya.
c. Kebutuhan itu selalu menyebabkan suatu keadaan yang tidak seimbang dan dimanifestasikan dalam perilaku yang terarah.
d. Kebutuhan itu dapat bersifat saling kompetitif dan selalu berlomba untuk mendapat pemenuhan lebih dahulu.
e. Kebutuhan itu kemunculannya dapat bersifat periodik dan ada yang bersifat sementara.

Pemenuhan kebutuhan hidup manusia digolongkan dua macam, yaitu kebutuhan yang timbul atau kemunculannya bersumber pada aspek-aspek biologis atau organisme tubuh manusia (sering dikenal kebutuhan hidup mendasar), dan kebutuhan yang timbul karena pergaulan antarmanusia dalam masyarakat.

Di bawah ini akan dijelaskan tentang kebutuhan hidup mendasar atau primer, kebutuhan sosial, dan kebutuhan integratif.

a. Kebutuhan Hidup Mendasar/Primer

Kebutuhan hidup mendasar ialah kebutuhan manusia yang erat hubungannya dengan kebutuhan jasmani. Kebutuhan hidup mendasar itu, kemunculannya bersumber pada aspek-aspek biologi atau organisme tubuh manusia. Beberapa kebutuhan mendasar misalnya sebagai berikut.
1) Makanan/minuman/air
2) Istirahat dan kesehatan
3) Buang air besar/kecil
4) Kebutuhan biologis
5) Perlindungan dari cuaca/iklim

b. Kebutuhan Sosial/Psikologis

Kebutuhan sosial, yaitu kebutuhan-kebutuhan yang timbul karena pergaulan antarmanusia dalam masyarakat. Sebagian dari kebutuhan sosial itu merupakan sarana untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan primer ataupun kebutuhan sekunder. Kebutuhan sosial itu meliputi hal-hal sebagai berikut.
1) Kebutuhan akan kegiatan-kegiatan bersama.
2) Kebutuhan berkomunikasi.
3) Kebutuhan akan keteraturan sosial.
4) Kebutuhan akan pendidikan.

c. Kebutuhan Integratif

Kebutuhan integratif, yaitu kebutuhan terpadu yang terdiri atas berbagai macam  kebutuhan  seperti yang  telah  diterangkan di  atas. Pada hakikatnya setiap individu dan masyarakat suatu bangsa pasti memiliki kebutuhan integratif.

Masalahnya hanya kuantitasnya saja yang berbeda. Kenyataannya kebutuhan individu masyarakat dari suatu bangsa itu semakin hari semakin bertambah banyak dan beraneka ragam.

Kebutuhan integratif itu muncul dan terpencar dari hakikat manusia sebagai makhluk pemikir dan bermoral, yang fungsinya mengintegrasikan berbagai unsur kebudayaan sebagai sebuah sistem yang mencakup kebutuhan-kebutuhan sebagai berikut.
1) Kebutuhan akan adanya prinsip benar dan salah.
2) Kebutuhan akan perasaan keyakinan diri.
3) Kebutuhan pengungkapan kebersamaan.
4) Kebutuhan pengungkapan etika, estetika, dan kebutuhan rekreasi.

Beradaptasi Terhadap Lingkungan Alam/ Fisik Sosial dan Budaya

Manusia tidak dapat hidup menyendiri. Dia harus hidup bersama-sama dengan orang lain. Dengan keluarganya, dengan teman-temannya sekampung atau sekota, dan dengan masyarakat. Di samping itu manusia hidupnya harus menyesuaikan terhadap lingkungan baik bersifat alam (fisik), sosial, dan budaya.

Bahkan manusia dalam hidupnya harus tahu aturan-aturan dan cara-cara beradaptasi terhadap lingkungan alam (fisik), sosial, dan budaya, yaitu sebagai berikut.
a. Lingkungan fisik, contohnya iklim, relief, suhu udara, keadaan tanah, keadaan sumber alam, dan tata air.
b. Lingkungan sosial, contohnya agama, adat-istiadat, kesenian, bahasa, dan hukum adat.
c. Lingkungan budaya, contohnya kemajuan teknologi, keadaan pendidikan, perkembangan pola kebudayaan, dan sikap mental penduduk.

Kebudayaan yang telah menjadi milik suatu masyarakat pada umumnya berasal dari warisan turun-temurun. Sifat kebudayaan menjadi suatu yang berharga bagi masyarakat. Mereka takut kehilangan karena berlakunya menjadi pedoman hidup sehari-hari.

Sifat keterbukaan masyarakat untuk menerima sesuatu dari luar tergantung dari kedayagunaan suatu kebudayaan. Apabila masyarakat memandang perlu untuk memperbaiki maka dilakukan perubahan.

Misalnya: dahulu di pedesaan orang menumbuk padi dengan lesung, tetapi sekarang lesung diganti dengan mesin penggiling padi. Penduduk menerimanya sebagai perubahan.

Dalam beradaptasi dengan lingkungannya manusia akan mengikuti pola perubahan yang terjadi. Pola perubahan kebudayaan dapat berupa:

a. Perubahan Struktur Sosial

Perubahan struktur sosial, yaitu perubahan susunan masyarakat.
Contoh: Bentuk perkawinan calon suami/istri berasal dari satu klan (endogami) atau calon suami istri berasal dari luar klannya (eksogami). Kemudian bentuk perkawinan berubah menjadi heterogami, yaitu perkawinan berdasarkan endogami dan eksogami.

b. Perubahan Nilai dan Sikap

Perubahan nilai dan sikap, yaitu perubahan oleh masyarakat terhadap suatu bentuk kebudayaan, misalnya: bentuk kesenian, bentuk kepercayaan, bentuk adat istiadat, dan bentuk-bentuk berbagai barang keperluan.

c. Perubahan Tidak Direncanakan

Untuk menanggulangi kebutuhan, masyarakat biasanya melakukan usaha sendiri secara spontan. Usaha yang dilakukan masyarakat itu mengakibatkan perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan. Misalnya: karena pengaruh bangunan rumah di kota, masyarakat desa yang semula berumah bambu menggantinya dengan rumah batu dalam berbagai bentuk.

Perubahan atau perkembangan dalam interaksi sosial merupakan proses sosial dasar dalam masyarakat.

Bentuk Interaksi Sosial

Beberapa proses sosial dasar yang merupakan bentuk interaksi sosial menurut Soerjono Soekanto, yaitu adanya kerja sama, persaingan, konflik, akomodasi, dan asimilasi.

a. Kerja Sama/Kooperasi

Kerja sama dirumuskan sebagai bekerja bersama, menuju tujuan bersama. Apabila dua orang atau lebih atau grup bekerja atau bertindak bersama dalam mengejar tujuan bersama maka telah terbentuk kooperasi.

Dengan demikian jumlah sumbangan interaksi para partisipan kurang penting dalam memahami kooperasi sebagai proses sosial.

b. Persaingan (Kompetisi)

Persaingan merupakan suatu proses sosial di mana orang seorang atau kelompok-kelompok manusia bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa menjadi pusat perhatian dari publik dengan cara mempertajam prasangka yang telah ada tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan.

c. Konflik/Pertikaian/Pertentangan

Pertikaian ialah suatu proses sosial di mana orang seorang atau kelompok manusia, berusaha memenuhi tujuan dengan jalan memandang pihak lawan dengan ancaman atau kekerasan.

d. Akomodasi

Akomodasi ini juga disebut sebagai kooperasi antagonistik. Dengan demikian, akomodasi dapat dipandang sebagai proses interaksi sosial yang menghasilkan interaksi sosial, atau sebagai suatu jalan keluar untuk mengatasi persaingan dan konflik yang ada.

Akomodasi merupakan suatu proses mengembangkan persetujuan kerja sementara di antara individu atau grup-grup yang sedang berada dalam keadaan konflik.

Ia berkembang bila individu atau grup-grup melihat adanya manfaat untuk bekerja sama walaupun masih ada perbedaan yang menjadi sumber konflik di antara mereka. Akomodasi ini dapat berlangsung dalam jangka panjang atau jangka pendek.

Beberapa bentuk akomodasi antara lain sebagai berikut.

1) Kompromi
Di dalam kompromi, setiap pihak setuju untuk membuat konsesi yang memungkinkan mereka mencapai persetujuan. Hal ini dapat berlanjut sampai semua pihak puas.

2) Arbitrasi
Perselisihan dan konflik antara  dua  pihak  yang  sulit diatasi dengan kompromi, sering diatasi dengan arbitrasi. Di sini pihak ketiga, baik yang dipilih dan ditentukan oleh kedua belah pihak, maupun badan yang lebih tinggi dari kedua belah pihak itu diminta bantuannya.

3) Coercion
Coercion, yaitu suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan oleh suatu paksaan, di mana salah satu pihak berada dalam keadaan lemah sekali dibandingkan dengan pihak lawan.

4) Conciliation
Conciliation, yaitu suatu usaha untuk memperhatikan keinginan-keinginan pihak-pihak yang berselisih untuk mencapai suatu persetujuan.

5) Stalemate
Stalemate, yaitu suatu akomodasi di mana pihak-pihak yang bertentangan karena mempunyai kekuatan yang seimbang, berhenti pada suatu titik tertentu dalam melakukan pertentangan.

6) Konversi
Dalam bentuk akomodasi ini, satu dari pihak-pihak yang terlibat konflik menerima aspek-aspek tertentu dari pandangan-pandangan pihak yang lain. Konversi ini sering dihubungkan dengan kepercayaan agamawi.

7) Toleransi
Dalam toleransi manusia menerima hak dari setiap orang atau pihak lain untuk berbeda pendapat. Di sini dibutuhkan saling pengertian. Bentuk akomodasi seperti ini kadang-kadang baru berhasil dengan baik setelah kompromi dan konvensi gagal.

8) Truce
Ini merupakan suatu persetujuan untuk menghentikan interaksi yang bersifat konflik atau persaingan untuk suatu periode waktu yang ditentukan.

9) Displacement
Cara ini berhubungan dengan usaha mengakhiri konflik, dengan mengalihkan perhatian pada objek bersama.

Gillin menguraikan hasil-hasil dari terjadinya suatu proses akomodasi, dengan banyak mengambil contoh dari sejarah.

a) Akomodasi menyebabkan usaha-usaha untuk sebanyak mungkin menghindarkan diri dari benih-benih yang dapat menyebabkan pertentangan yang baru untuk kepentingan integrasi masyarakat.

b) Akomodasi juga menahan keinginan-keinginan untuk bersaing yang hanya membuang biaya dan tenaga saja.

c) Seringkali suatu persaingan dilaksanakan demi keuntungan suatu kelompok tertentu (misalnya golongan produsen) sekalipun menyebabkan kerugian pihak lain (pihak konsumen).

d) Akomodasi menyebabkan suatu penetapan yang baru dari kedudukan orang perorangan dan kelompok manusia. Pertentangan-pertentangan menyebabkan kedudukan-kedudukan tersebut goyah dan suatu akomodasi akan mengukuhkan kembali kedudukan tersebut.

e) Akomodasi membuka jalan ke arah asimilasi. Dengan adanya proses asimilasi maka akan saling mengenal pihak-pihak lain sehingga akan lebih mudah untuk saling mendekati, dan akan timbul benih-benih toleransi.

f) Koordinasi berbagai kepribadian yang berbeda. Hal ini terlihat dengan jelas kalau dua orang misalnya, bersaing untuk menduduki kedudukan sebagai pemimpin suatu partai politik.

Di dalam kampanye pemilihan, persaingan dilakukan dengan sengit, tetapi bila salah satu telah terpilih, biasanya yang kalah diajak untuk bekerja sama.

g) Perubahan dari institusi-institusi sosial supaya sesuai dengan keadaan yang baru.

e. Asimilasi

Asimilasi sebagai suatu proses difusi budaya melalui individu-individu dan grup-grup secara budaya menjadi sama. Proses ini terjadi bila dua kebudayaan yang berbeda bertemu dan kebudayaan yang dominan berasimilasi dengan kebudayaan yang lain.

Proses asimilasi ditandai dengan pengembangan sikap-sikap yang sama, walaupun kadang-kadang bersifat emosional, bertujuan mencapai kesatuan atau paling sedikit suatu integrasi dalam organisasi, pikiran, dan tindakan.

Kalau seseorang mengadakan asimilasi ke dalam suatu kelompok maka dia tidak lagi membedakan dirinya dengan kelompoknya. Dalam proses asimilasi mereka mengidentifikasikan dirinya dengan kepentingan-kepentingan kelompok.

Apabila kelompok-kelompok mengadakan asimilasi maka batas-batas antara kelompok-kelompok tadi akan hilang dan keduanya lebur menjadi satu.

Beberapa faktor penghambat asimilasi menurut Koentjaraningrat
antara lain sebagai berikut.
1) Perbedaan-perbedaan fisik.
2) Perbedaan  ekstrem  dalam  latar  belakang  budaya,  misalnya diskriminasi ras di Afrika Selatan.
3) Prasangka pribadi yang negatif. Misalnya, ada orang tua di Jawa melarang anaknya berpacaran dengan anak luar Jawa karena berprasangka bahwa anak luar Jawa itu pasti akan mempermainkan cinta anak gadisnya.

Beberapa faktor yang mempermudah asimilasi antara lain sebagai berikut.
1) Toleransi.
2) Suatu sikap yang menghargai orang asing dan kebudayaannya.
3) Persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan.
4) Kesempatan-kesempatan di bidang ekonomi seimbang.
5) Sikap terbuka dari golongan yang berkuasa.
6) Adanya musuh bersama dari luar.
7) Adanya perkawinan campuran (amalgamation).

Konsensus dan Kontravensi

Adanya lima proses dari interaksi-interaksi sosial tersebut (kerja sama, persaingan, konflik, akomodasi, dan asimilasi) mempunyai aspek-aspek yang beraneka ragam.

Dari lima proses ini maka kerja sama, persaingan, dan konflik dipandang sebagai proses dasar. Selanjutnya ada dua lagi proses interaksi sosial yang hampir sama, yaitu konsensus dan kontravensi.

Konsensus

Konsensus sangat berdekatan dengan kooperasi (kerja sama), tetapi keduanya tetap berbeda. Konsensus adalah suatu area dari persetujuan di mana istilah kooperasi diletakkan.

Konsensus dapat dipandang sebagai suatu permainan yang sama, kedua belah pihak berusaha mendapat keuntungan maksimal, tetapi dipersiapkan untuk memberikan keuntungan-keuntungan kepada yang lain dalam batas-batas yang masuk akal, supaya menghasilkan kepuasan yang relatif.

Contoh dari konsensus adalah aliansi di antara negara-negara. Bila anggota-anggota suatu grup berada dalam perbedaan kepentingan yang dapat menjurus kepada perpecahan dari konflik maka konsensus sangat dibutuhkan.

Kontravensi

Kontravensi,  dapat  digambarkan  sebagai  suatu  proses  sosial  yang bentuknya di antara persaingan dan konflik. Menurut Drs. Achmadi, ada tiga tipe umum dari kontravensi, yaitu kontravensi yang menyangkut suatu generasi masyarakat, kontravensi yang menyangkut s3ks, dan kontravensi parlementer.

Ia menunjuk pada grup-grup atau orang perorangan yang berusaha mencegah setiap orang atau grup yang lainnya dari usaha mencapai tujuan terlepas dari apakah ia ingin atau tidak ingin untuk mencapai tujuan itu untuk dirinya sendiri.

Macam-macam kontravensi sebagai berikut.

1) Kontravensi yang menyangkut generasi yang terdapat dalam masyarakat, di mana perubahan-perubahan terjadi dengan cepat.
Contoh: Adanya pola-pola hubungan antara orang tua dengan anak-anaknya yang  umumnya  bersifat asosiatif,  tetapi tidak jarang bahwa dengan meningkatnya usia dan kedewasaan si anak, terjadi suatu sikap keragu-raguan terhadap pendirian orang tua yang telah terikat pada tradisi.

2) Kontravensi yang menyangkut bidang s3ks, pada umumnya menyangkut hubungan suami-istri dalam keluarga dan peranannya dalam masyarakat.

3) Kontravensi parlementer, menyangkut hubungan antara golongan mayoritas dengan golongan minoritas dalam masyarakat, baik menyangkut dalam lembaga-lembaga legislatif, keagamaan, lembaga-lembaga pendidikan, dan lain-lain.

Terbentuknya Masyarakat dan Hasrat Manusia

Telah menjadi kodrat manusia, di mana pun manusia bertempat tinggal di permukaan bumi selalu:
a. berusaha  mempertahankan  diri  dengan  maksud  untuk  mencapai kelangsungan hidupnya di muka bumi,
b. berusaha mendapatkan lingkungan yang baik dengan adanya ketertiban, keamanan, dan kebahagiaan.

Untuk mencapai kehendak kodrat tersebut maka manusia hidup bersama-sama dengan manusia lain. Manusia adalah makhluk yang tidak dapat hidup sendirian, terlepas dari pergaulan.

Memang manusia dapat mengasingkan diri dari sesama manusia, hal itu hanya dapat berlangsung untuk sementara waktu saja. Pengasingan diri tersebut disertai dengan perasaan tertekan dan perasaan yang berat.

Seorang ahli filsafat bernama Aristoteles menjelaskan bahwa manusia disebut zoon politicon, artinya manusia itu adalah makhluk yang selalu hidup bermasyarakat. Terbentuknya masyarakat karena adanya berbagai hasrat dari manusia itu sendiri.

Hasrat-hasrat manusia sebagai berikut.
a. Hasrat sosial: hasrat manusia untuk menghubungkan dirinya dengan individu lain atau kelompok lain.
b. Hasrat bergaul: hasrat untuk bergaul atau bergabung dengan orang-orang atau kelompok-kelompok lain.
c. Hasrat memberitahukan: hasrat manusia untuk menyampaikan perasaan-perasaan kepada orang lain.
d. Hasrat meniru: hasrat manusia untuk meniru suatu gejala, baik secara diam-diam atau secara terang-terangan untuk sebagian atau keseluruhan.
e. Hasrat berjuang: hasrat manusia untuk mengalahkan lawan atau berjuang untuk mempertahankan hidupnya.
f. Hasrat untuk mendapatkan kebebasan: hasrat manusia untuk menghindarkan diri dari paksaan atau tekanan-tekanan.
g. Hasrat naluriah: hasrat manusia untuk melanjutkan keturunan.
h. Hasrat bersatu: hasrat bersatu dengan lainnya agar tercipta kekuatan bersama, sebab adanya kenyataan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah. Adanya kesamaan keturunan, kesamaan keyakinan, dan lain-lain menyebabkan timbulnya masyarakat.

Keteraturan Sosial Dalam Kehidupan Masyarakat

Manusia dalam hidup bermasyarakat selalu menyesuaikan diri dengan lingkungannya agar terjadi keserasian yang memberikan kepuasan hidupnya. Sebagai anggota masyarakat manusia berhadapan dengan lingkungan alam seperti iklim, tanah, dan sumber alam.

Manusia juga berhadapan dengan lingkungannya yang berwujud manusia juga. Ia berhadapan dengan sesama manusia yang masing-masing mempunyai kemerdekaan pribadi: kehendak, keinginan, perasaan, dan sifat yang berbeda-beda. Kehidupan masyarakat perlu keteraturan sosial agar terjadi hubungan selaras antar-interaksi sosial.

Adanya keteraturan sosial itulah yang membawa kenikmatan dalam berhubungan dengan lingkungannya. Keteraturan sosial bagi manusia tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi memerlukan pertumbuhan dan perkembangan yang cukup lama.

Hanya dengan hidup teratur maka proses sosial akan berjalan wajar. Contoh keteraturan sosial tersebut, misalnya sejak kecil kehidupan manusia sehari-hari memerlukan keteraturan seperti tidur teratur, mandi teratur, makan teratur, duduk teratur, bicara teratur, dan sebagainya.

Selanjutnya setelah terjadi proses sosial, nilai-nilai yang selalu dibawa itu mulai tertanam dan melembaga dalam proses sosial tadi. Kalau diterima masyarakat maka nilai-nilai tersebut akan berubah statusnya menjadi ”nilai-nilai sosial” yang selanjutnya dijadikan pedoman dan ditaati oleh para anggota warga masyarakat.

Kalau sikap dan perasaan tentang nilai-nilai sosial itu sudah menumbuhkan satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan maka nilai tersebut sudah menjadi ”sistem nilai sosial”.

Oleh karena itu, seseorang dapat pula mengembangkan sendiri sikap dan perasaan di luar lingkup sistem nilai-nilai sosial terhadap sesuatu yang dianggap baik, yang disukai atau tidak disukai berdasarkan pandangan dan selera pribadi masing-masing.

Nilai yang ditentukan oleh selera pribadi masing-masing tersebut disebut nilai individual. Nilai individual bersifat subjektif dan memiliki ruang yang terbatas.

Pada prinsipnya nilai individual dapat membantu seseorang dalam membuat keputusan-keputusan secara individual. Kadang-kadang nilai individual itu bertentangan atau menyimpang dengan nilai sosial yang mempunyai sifat lebih objektif, namun di pihak lain antara nilai-nilai tersebut saling menyesuaikan.

Keteraturan-keteraturan dalam kehidupan dituntut adanya tertib sosial, dan keajegan atau kemampuan pola-pola tingkah laku dari seluruh masyarakat yang berinteraksi.

Selain nilai maka supaya terjadi tertib sosial perlu diciptakan norma-norma di dalam masyarakat. Pada mulanya norma tersebut terbentuk secara tidak sengaja, tetapi lama-kelamaan norma-norma tersebut dibuat secara sadar.

Contoh pada zaman dahulu jual beli lewat seorang perantara tidak harus diberi keuntungan. Akan tetapi lama kelamaan menjadi kebiasaan bahwa perantara atau yang dikenal dengan peraturan makelar harus mendapat bagian sebagai balas jasa.

Di dalam masyarakat norma-norma yang ada mempunyai kekuatan-kekuatan mengikat yang berbeda-beda, akan tetapi norma-norma tersebut memiliki sanksi, apabila terjadi pelanggaran norma.

Di masyarakat, dengan adanya norma-norma tersebut bermanfaat untuk mendukung dan menopang nilai-nilai dan pola kehidupan yang berlaku di masyarakat. Artinya untuk mendukung tercapainya nilai-nilai dan pola kehidupan yang dianut diperlukan aturan-aturan berlaku yang disebut norma yang dilengkapi sanksi-sanksi.

Di samping norma-norma sebagai aturan-aturan untuk berperilaku, tujuan dengan adanya norma  dalam masyarakat tersebut, yaitu  untuk memelihara ketertiban dan perdamaian di antara orang-orang yang memiliki kepentingan yang berlainan sehingga satu dengan yang lain akan saling hormat-menghormati terhadap kepentingan masing-masing.

Dengan adanya norma di masyarakat maka manusia sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, tidak dapat bertindak bebas sesuka hatinya.

Konflik dalam Proses Interaksi Sosial

Manusia dalam berinteraksi sosial akan terjadi suatu keadaan yang disebut situasi sosial. Di samping itu juga terdapat rangkaian proses-proses yang tidak ada batasnya terdiri atas penyatuan dan perikatan yang disebut suasana sosial. Ada pula interaksi sosial yang disebut asosiatif dan ada pula yang disebut disasosiatif.

Asosiatif adalah suatu kehidupan di mana pihak-pihak yang berhubungan dalam tingkat yang sejajar saling ketergantungan, koordinasi, dan kerja sama.

Kehidupan asosiatif di masyarakat dengan kekuatan seimbang akan terjadi suatu kerja sama sehingga akan tercipta kehidupan demokratis, sedangkan kehidupan asosiatif yang tidak seimbang akan mengubah keadaan demokratis menjadi diktator atau otokrasi.

Kehidupan disasosiatif di masyarakat dengan hikmat yang tidak seimbang jelas akan tampak, siapa yang kuat pasti akan menang dan siapa yang lemah akan kalah.

Dalam hubungan orang perorang atau kelompok kemungkinan terjadi kerja sama (cooperation), persaingan (competition), dan dapat pula terjadi pertentangan (pertikaian) atau konflik. Baik kerja sama, persaingan, dan pertentangan termasuk bentuk-bentuk interaksi sosial.

Pertentangan atau konflik adalah proses sosial, di mana orang perorang atau kelompok manusia berusaha mencapai tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan, dengan menggunakan ancaman atau kekerasan.

Dalam pertikaian unsur perasaan memegang peranan penting dalam mempertajam perbedaan-perbedaan yang ada sehingga masing-masing pihak berusaha saling menghancurkan.

a. Sebab-sebab Terjadinya Pertikaian

1) Adanya perbedaan pendirian dan perasaan orang seorang yang semakin tajam sehingga timbul bentrokan perseorangan.
2) Adanya perubahan-perubahan sosial yang terlalu cepat di dalam masyarakat sehingga menyebabkan terjadinya disorganisasi dan perbedaan pendirian mengenai reorganisasi dari sistem nilai-nilai baru.
3) Adanya perbedaan kebudayaan yang mempengaruhi pola pemikiran dan tingkah laku perseorangan dalam kelompok kebudayaan yang bersangkutan. Hal ini akan menimbulkan pertentangan kelompok.
4) Adanya bentrokan mengenai kepentingan-kepentingan, baik perseorangan maupun kelompok, misalnya: kepentingan ekonomi, sosial, politik, ketertiban, dan keamanan.
Contoh: Pertikaian antara buruh dan majikan.
Suatu masyarakat biasanya mempunyai alat-alat tertentu untuk menyalurkan benih-benih pertikaian yang disebut safety valve institutions. Di dalam alat-alat ini disediakan objek-objek tertentu  yang dapat mengalihkan pertikaian kepada pihak yang bertikai agar perhatian tersebut dapat tersalurkan ke arah lain.

b. Bentuk-bentuk Pertentangan

Menurut  Achmadi  ada  lima  bentuk-bentuk  pertentangan,  yaitu sebagai berikut.
1) Pertentangan pribadi, yaitu pertentangan yang terjadi di antara orang seorang karena masalah-masalah pribadi.
2) Pertentangan politik, yaitu pertentangan antarpartai politik karena perbedaan ideologi, asas perjuangan, dan cita-cita politik masing-masing.
3) Pertentangan rasial, yaitu pertentangan kelompok ras yang berbeda karena kepentingan dan kebudayaan yang saling bertabrakan. Misalnya: terjadinya diskriminasi ras di Amerika Serikat dan Afrika Selatan.
4) Pertentangan antarkelas sosial, yang disebabkan munculnya perbedaan-perbedaan kepentingan, misalnya antara buruh dan majikan.
5) Pertentangan yang bersifat internasional, yaitu pertentangan yang melibatkan beberapa kelompok negara (blok) karena perbedaan-perbedaan kepentingan masing-masing.
Contoh: Pertikaian Kaum Hizbullah di Libanon dengan Israel yang melibatkan beberapa negara besar.

c. Akibat-akibat dari Bentuk Konflik

1) Tambahnya solidaritas dari in-group. Jika suatu kelompok yang semula tidak kompak, tetapi kalau ada kelompok lain yang mengancamnya maka solidaritas mereka akan lebih baik.
2) Jika pertentangan itu terjadi antarwarga dalam satu kelompok maka keutuhan kelompok itu akan goyah.
3) Hancurnya harta benda atau jatuhnya korban manusia pada kedua belah pihak yang berperang.
4) Bila kekuatan kedua kelompok itu seimbang, bisa timbul akomodasi, tetapi bila tidak seimbang, yang lebih kuat akan mendominasi, sedangkan yang lemah akan takluk kepada yang menang.
5) Berubahnya kepribadian. Kalau pertentangan terjadi antara dua kelompok yang berlainan, misalnya Jepang dan Amerika pada tahun 1942 maka orang seorang akan mengidentifikasikan dirinya dengan satu kelompok saja, lalu menghadapi kelompok lain yang dianggap sebagai lawan.

Kerja Sama dalam Proses Interaksi Sosial

Yang dimaksud kerja sama di sini adalah kerja sama antara orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai suatu tujuan bersama. Kerja sama timbul kalau orang-orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama.

Pada masyarakat Indonesia bentuk kerja sama telah dikenal sejak zaman purba, terkenal dengan nama gotong royong. Manusia dalam kehidupan sosial, sejak kecil sudah ditanamkan pola perilaku untuk hidup rukun dengan keluarga dan masyarakat sekitarnya.

Hal ini didasarkan pada pandangan hidup, bahwa seseorang tidak mungkin hidup sendiri tanpa kerja sama dengan orang lain. Dengan semangat gotong royong, sering kali diterapkan untuk mengusahakan kepentingan umum.

Suatu bentuk kerja sama akan berkembang, kalau orang yang terlibat dalam interaksi dapat digerakkan untuk mencapai tujuan bersama disertai kesadaran, bahwa tujuan tersebut di kemudian hari mempunyai manfaat bagi semuanya.

Di samping itu harus ada iklim yang menyenangkan dalam pembagian kerja serta balas jasa yang diterima. Sehubungan dengan pelaksanaan kerja sama, ada beberapa bentuk kerja sama.

a. Bargaining

Bargaining, yaitu pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang-barang dan jasa-jasa antara dua organisasi atau lebih.

b. Cooperation

Cooperation, yaitu suatu proses penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi. Hal itu merupakan salah satu cara untuk menghindari terjadinya kegoncangan dalam stabilitas organisasi yang bersangkutan.


c. Coalition (Koalisi)

Koalisi, yaitu kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan-tujuan yang sama. Pada mulanya koalisi memang mengalami kegoncangan-kegoncangan sebab asas dan sifat organisasinya berbeda-beda. Akan tetapi karena diikat oleh tujuan yang sama maka gerak langkah koalisi itu kooperatif.

d. Joint Venture

Joint venture, yaitu bentuk kerja sama yang bergerak dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu. Keuntungannya dibagi menjadi proporsi yang sudah disepakati bersama. Misalnya: joint venture antara Indonesia dengan PT. Caltex Amerika Serikat dalam proyek pengeboran minyak bumi.

Persaingan (Competition) dalam Proses Interaksi Sosial

Persaingan terjadi ketika orang perorangan atau kelompok manusia bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang tertentu, dengan cara menarik perhatian publik tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan.

Ada dua macam tipe persaingan, yaitu sebagai berikut.
a. Persaingan yang bersifat pribadi, yaitu persaingan masing-masing orang secara langsung bersaing, misalnya untuk memperoleh kedudukan tertentu dalam organisasi.
b. Persaingan yang bersifat kelompok, yaitu persaingan antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya. Misalnya dua kelompok perusahaan yang bersaing untuk memperebutkan mendapatkan monopoli pemasaran di suatu wilayah tertentu.

a. Bentuk-bentuk Persaingan

Ada beberapa bentuk persaingan, yaitu sebagai berikut.

1) Persaingan di Bidang Ekonomi
Ditinjau dari persaingan di bidang ekonomi, persaingan timbul karena terbatasnya penawaran dibandingkan dengan permintaan. Persaingan adalah salah satu cara untuk memilih produsen-produsen yang baik.

Bagi masyarakat sebagai keseluruhan persaingan ini membawa keuntungan sebab produsen-produsen yang terbaik memenangkan persaingan dengan cara memproduksi barang-barang dan jasa-jasa yang lebih baik mutunya, dengan harga yang cukup rendah.

2) Persaingan untuk Mencapai Suatu Kedudukan Tertentu Dalam Masyarakat
Dalam diri seseorang maupun dalam kelompok manusia terdapat keinginan-keinginan yang diakui sebagai seseorang atau kelompok yang mempunyai kedudukan tersebut. Keinginan tersebut dapat terarah pada suatu persamaan derajat, kedudukan, dan peranan dengan pihak lain atau lebih tinggi daripada itu.

3) Persaingan Dalam Bidang Kebudayaan
Persaingan dalam bidang kebudayaan misalnya pada waktu orang-orang Barat berdagang di pelabuhan Jepang maka para pendeta-pendeta agama Kristen berusaha untuk menyebarkan agama tersebut di Jepang.

Hal yang sama juga terjadi sewaktu kebudayaan Barat, yang mula-mula dibawa oleh orang-orang Belanda pada akhir abad ke-15, berhadapan dengan kebudayaan Indonesia. Persaingan dalam bidang kebudayaan dapat menyangkut misalnya bidang keagamaan, institusi sosial, dan lain-lain.

4) Persaingan Karena Perbedaan Ras
Persaingan karena perbedaan ras juga merupakan persaingan di bidang kebudayaan. Perbedaan ras karena perbedaan warna kulit, bentuk tubuh, corak rambut, dan sebagainya hanya merupakan suatu perlambang dari suatu kesadaran dan sikap atas perbedaan dalam kebudayaan. Hal ini disebabkan karena ciri-ciri badaniah lebih mudah terlihat daripada unsur-unsur kebudayaan lain.

b. Fungsi-fungsi Persaingan

Fungsi-fungsi persaingan, yaitu sebagai berikut.
1) Persaingan mempunyai fungsi sebagai suatu proses sosial dan membentuk interaksi dalam masyarakat. Ia menyusun suatu cara pembagian atau distribusi komoditi yang terbatas dalam masyarakat.
2) Persaingan dalam batas-batas tertentu dapat menuntut pengaturan tingkah laku individu supaya terjadi persaingan yang sehat. Hal ini disebabkan karena persaingan yang tidak diatur, akan mengarah kepada konflik yang merugikan.
3) Persaingan dapat mendorong dan merangsang individu dan grup untuk lebih maju. Dalam bidang niaga, persaingan dapat mendorong peningkatan produktivitas dan efisiensi kerja.
4) Persaingan dapat mempunyai daya rangsang dan daya dorong yang terbatas. Orang yang telah memutuskan untuk tidak mau terlibat dalam usaha yang berdasarkan persaingan, tidak dapat dirangsang lagi untuk masuk ke dalam persaingan.

Demikianlah pembahasan lengkap tentang Pengertian Interaksi Sosial Lengkap: Dasar-Dasar, Tujuan, Manfaat, Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial, Kerjasama dan Konflik, semoga bermanfaat.
Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 Response to "Pengertian Interaksi Sosial: Tujuan, Manfaat, Bentuk-Bentuk, Kerjasama dan Konflik"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel