Pengertian Sosialisasi : Fungsi, Media, Proses Pembentukan dan Dasar Kepribadian

Pengertian sosialisasi dan pembentukan kepribadian, perkembangan manusia sebagai makhluk yang berkepribadian yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, jenis- jenis media sosialisasi dan peranan masing-masing, berbagai metode yang dipergunakan oleh masyarakat dalam mempengaruhi proses sosialisasi anak dan mendeskripsikan kepribadian suatu individu yag dipengaruhi oleh nilai-nilai dan norma-norma dalam sistem budaya dan sistem sosial.

Sosialisasi adalah suatu proses sosial yang terjadi apabila seseorang mendapatkan pembentukan sikap untuk berperilaku yang sesuai dengan perilaku kelompoknya. Sosialisasi merupakan proses belajar mengajar mengenai pola-pola tindakan interaksi dalam masyarakat sesuai dengan peran dan status sosial yang dijalankan masing-masing.



Dengan proses itu, individu akan mengetahui dan menjalankan hak dan kewajibannya berdasarkan peran status masing-masing dan kebudayaan suatu masyarakat.

Tujuan sosialisasi sebagai berikut.

1. Memberikan keterampilan dan pengetahuan kepada seseorang untuk dapat hidup bermasyarakat.
2. Mengembangkan kemampuan seseorang untuk dapat berkomunikasi secara efektif dan efisien.
3. Membuat seseorang mampu mengembalikan fungsi-fungsi melalui latihan introspeksi yang tepat.
4. Menanamkan nilai-nilai dan kepercayaan kepada seseorang yang mempunyai tugas pokok dalam masyarakat.

Di samping proses sosialisasi masyarakat juga terjadi proses enkulturasi atau proses pembudayaan, yaitu mempelajari kebudayaan sendiri dengan cara mempelajari adat istiadat, bahasa, seni, agama, dan kepercayaan yang hidup dalam lingkungan kebudayaan masyarakat.

Proses sosialisasi dan enkulturasi berlangsung dari generasi tua ke generasi muda melalui tahapan tertentu. Misalnya, seorang anak mempelajari kehidupan dimulai dari lingkungan keluarganya, meluas ke tetangga, teman sebaya, dan lingkungan sekolah.

Pengertian Sosialisasi

Sosialisasi adalah proses belajar berinteraksi dalam masyarakat sesuai dengan peranan yang dijalankan. Biasanya sosialisasi itu berangkai dengan kepribadian dan kebudayaan. Manusia adalah makhluk sosial, hampir semua kegiatannya dilakukan bersama dengan manusia lainnya.

Manusia sejak lahir mempunyai hasrat sosial sebagai berikut.
a. Hasrat menyatu dengan masyarakat atau manusia lain yang berbeda di sekitarnya.
b. Hasrat menyatu dengan lingkungan alam di sekitarnya.

Untuk menyesuaikan diri dengan kedua lingkungan tersebut, manusia menggunakan akal dengan membentuk kelompok-kelompok sosial supaya dapat bekerja sama mencapai sesuatu yang diinginkannya. Misalnya menangkap ikan di sungai, berburu di hutan, membuat rumah, membuat peralatan hidup, mengerjakan tanah pertanian, dan lain-lain.

Pembentukan Kepribadian

Proses perkembangan manusia, sebagai manusia yang berkepribadian atau makhluk sosial itu dipengaruhi oleh berbagai faktor. Menurut F.G. Robbins ada lima faktor yang menjadi dasar kepribadian itu, antara lain:

a. Sifat Dasar

Sifat dasar, merupakan keseluruhan potensi-potensi yang diwarisi oleh seseorang dari ayah dan ibunya. Sifat dasar tersebut terbentuk pada saat konsepsi, yaitu saat terjadi hubungan suami/istri. Sifat dasar yang masih merupakan potensi-potensi juga dipengaruhi faktor-faktor lainnya.

b. Lingkungan Prenatal

Lingkungan prenatal, merupakan lingkungan dalam kandungan ibu. Sel telur yang telah dibuahi pada saat terjadi hubungan suami/istri itu berkembang sebagai embrio dalam lingkungan prenatal. Pada periode prenatal ini individu mendapatkan pengaruh-pengaruh tidak langsung dari ibu.

Pengaruh-pengaruh itu antara lain:
1) struktur tubuh ibu (daerah panggul), merupakan kondisi yang mempengaruhi pertumbuhan bayi dalam kandungan;
2) beberapa jenis penyakit, seperti: kanker, diabetes, siphilis, hepatitis, berpengaruh tidak langsung terhadap pertumbuhan bayi dalam kandungan.
3) gangguan endoktrin, dapat mengakibatkan keterbelakangan perkembangan anak; dan
4) shock pada saat melahirkan, dapat mempengaruhi kondisi menyebabkan berbagai kelainan seperti: cerebral, palsy, dan lemah pikiran.

c. Perbedaan Individual

Perbedaan individual merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses sosialisasi. Sejak saat anak dilahirkan oleh ibunya, anak tumbuh dan berkembang sebagai individu yang unik dan berbeda dengan individu lainnya. Dia bersikap selektif terhadap pengaruh dari lingkungan. Perbedaan perorangan ini meliputi perbedaan-perbedaan ciri-ciri fisik seperti warna kulit, warna mata, rambut, dan bentuk badan, serta ciri- ciri personal dan sosial.

d. Lingkungan

Lingkungan di sekitarnya, yaitu kondisi-kondisi di sekeliling individu yang mempengaruhi proses sosialisasinya. Lingkungan itu dapat dibedakan menjadi 3 sebagai berikut.

1) Lingkungan alam, yaitu keadaan iklim, tanah, flora, fauna, dan sumber daya di sekitar individu.

2) Lingkungan kebudayaan, yaitu cara hidup masyarakat tempat individu itu hidup. Kebudayaan ini mempunyai aspek material (rumah, perlengkapan hidup, hasil-hasil teknologi lainnya), dan aspek non materiil (nilai-nilai pandangan hidup, adat istiadat, dan sebagainya).

3) Lingkungan manusia lain dan masyarakat di sekitar individu. Pengaruh manusia lain dan masyarakat di sekitarnya dapat membatasi proses sosialisasi dan memberi stimulasi terhadap perkembangannya.

Peranan kondisi lingkungan tersebut tidak menentukan mutlak, tetapi membatasi dan mempengaruhi proses sosialisasi manusia. Dalam hal ini kita juga menolak kebenaran paham determinisme geografis dan determinisme ekonomi mengenai peranan kondisi-kondisi geografis dan ekonomis terhadap proses sosialisasi individu.

e. Motivasi

Motivasi adalah kekuatan-kekuatan dari dalam individu yang menggerakkan individu untuk berbuat. Motivasi ini dibedakan menjadi dorongan dan kebutuhan.

1) Dorongan adalah keadaan ketidakseimbangan dalam diri individu karena pengaruh dari dalam dan luar dirinya yang mempengaruhi dan mengarahkan perbuatan individu dalam rangka mencapai adaptasi atau keseimbangan lagi. Pada diri manusia terdapat dorongan makan, minum, dan menghindarkan diri dari bahaya yang mengancamnya.

2) Kebutuhan adalah dorongan yang telah ditentukan secara personal, sosial, dan kultural. Kebutuhan-kebutuhan manusia yang penting, antara lain:
a) kebutuhan bebas dari rasa takut;
b) kebutuhan bebas dari rasa bersalah;
c) kebutuhan untuk bersama dengan orang lain;
d) kebutuhan untuk berprestasi;
e) kebutuhan akan afeksi;
f) kebutuhan untuk turut serta mengambil keputusan mengenai persoalan-persoalan yang menyangkut mengenai dirinya;
g) kebutuhan akan kepastian ekonomis; dan
h) kebutuhan akan terintegrasikannya sikap, keyakinan, dan nilai- nilai.

Kelima faktor yang menjadi dasar kepribadian manusia tersebut di atas dengan melalui proses aksi, reaksi, dan interaksi mempengaruhi proses sosialisasi manusia.

Bayi yang dilahirkan sebagai makhluk non sosial secara perlahan-lahan mengalami proses sosialisasi berkembang menjadi manusia dewasa yang sosial dan bertanggung jawab.

Dalam proses sosialisasi tersebut tiap-tiap individu maupun kelompok selalu berpegang dan berpedoman pada nilai-nilai dan norma-norma sosial yang berlaku di sekitarnya.

Nilai-nilai dan norma-norma sosial tersebut merupakan alat pembentuk kepribadian manusia, baik secara individu atau kelompok. Menurut ahli psikologi beberapa kasus menunjukkan, bahwa anak yang mengalami isolasi sosial tidak dapat berkembang sebagai pribadi sosial yang normal.

Proses Sosialisasi Pembentukan Kepribadian

Proses sosialisasi dalam rangka pembentukan kepribadian berjalan secara simultan dan terjalin satu sama lain. Ada dua dasar proses sosialisasi manusia dalam rangka pembentukan kepribadian, yaitu sebagai berikut.

a. Sifat Ketergantungan Antara Manusia Kepada Manusia Lain

Pada masa bayi dan anak-anak, individu tergantung secara biologis dan sosial pada orang lain. Bayi yang baru lahir sangat bergantung kepada orang tuanya, baik secara biologis maupun sosial. Tanpa pertolongan dan perlindungan orang tuanya, bayi akan mati. Bahkan pada masa remaja dan dewasa, manusia masih tetap bergantung secara sosial pada orang lain.

b. Sifat Adaptabilitas dan Inteligensi Manusia

Karena sifat adaptabilitas dan inteligensi itu manusia mampu mempelajari bermacam-macam bentuk tingkah laku, memanfaatkan pengalamannya, dan mengubah tingkah lakunya.

Dalam kehidupan masyarakat proses sosialisasi atau belajar sosial ini merupakan proses yang berlangsung sepanjang hidup (life long process), bermula sejak lahir sampai mati.

Dalam proses sosialisasi setiap individu mendapatkan pengawasan, pembatasan, dan hambatan dari manusia lain. Di samping itu individu juga mendapat bimbingan, dorongan, stimulasi, dan motivasi dari manusia lain.

Dalam proses sosialisasi tersebut individu bersikap reseptif maupun kreatif terhadap pengaruh masyarakat dan individu lain.

Tahap-tahap Sosialisasi

Keberhasilan sosialisasi sangat ditentukan oleh kebudayaan suatu masyarakat. Oleh karena itu, sosialisasi pada masyarakat yang satu berbeda dengan sosialisasi masyarakat yang lain.

Misalnya, pola pengasuhan pada masyarakat desa berbeda dengan pola pengasuhan pada masyarakat kota. Begitu juga sosialisasi anak orang miskin berbeda dengan sosialisasi anak orang kaya.

Proses sosialisasi terjadi melalui tiga tahap sebagai berikut.

a. Tahap Pertama

Pada tahap pertama, anak mulai belajar mengambil peranan orang- orang di sekelilingnya, terutama orang yang paling dekat dengan keluarganya, seperti ayah, ibu, saudara, kakek, dan nenek.

b. Tahap Kedua

Pada tahap kedua, anak mengetahui peranan yang harus dijalankannya dan mengetahui peranan yang harus dijalankan oleh orang lain. Apabila anak bermain dalam suatu pertandingan sepak bola, ia tidak hanya mengetahui apa yang diharapkan orang lain darinya, tetapi juga sesuatu yang diharapkan dari orang lain ikut bermain. Ketika bermain sebagai penjaga gawang anak juga mengetahui peranan-peranan yang dijalankan oleh pemain lain, baik kawan, lawan, wasit, hakim garis, maupun kiper.

c. Tahap Ketiga

Pada tahap ketiga, anak dianggap mampu mengambil peranan yang dijalankan orang lain dalam masyarakat luas. Misalnya, seorang anak perempuan yang telah memahami peranan yang dijalankan oleh ibunya dan memahami peranan sebagai pengurus OSIS di sekolah.

Fungsi Sosialisasi

Adapun fungsi sosialisasi dalam pembentukan peran dan status sosial, antara lain:
a. dapat mempelajari dan menghayati norma-norma kelompok ia hidup;
b. dapat mengenal lingkungan yang lebih luas di masyarakat;
c. dapat mengenal peranan-peranan anggota masyarakat;
d. dapat mengenal tentang status sosialnya di masyarakat;
e. dapat mengembangkan kemampuannya sesuai peran dan status sosialnya.

Jenis-jenis Media Sosialisasi dan Peranannya

Proses sosialisasi itu terjadi dalam institusi sosial atau kelompok dalam masyarakat. Di antara kelompok masyarakat tersebut yang berperanan penting dalam sosialisasi anak, yaitu keluarga, teman sepermainan, sekolah, lingkungan kerja, media massa, dan lain-lain.

a. Keluarga

Keluarga mempunyai fungsi dan pengawasan sosial. Keluarga memberi pengertian kepada anak tentang peranannya, baik dalam keluarga maupun di luar keluarga atau dalam masyarakat.

Karena seseorang dalam berhubungan selalu dengan orang lain, dan dalam hubungan itu diperlukan kebiasaan yang telah teratur. Misalnya cara makan, cara berpakaian, cara dan waktu untuk tidur agar tetap sehat dan segar.

Anak perlu dilatih mengadakan hubungan yang baik dengan orang lain dalam keluarga seperti dengan ibu, ayah, nenek, dan dengan saudara-saudaranya yang lebih tua atau lebih muda.

Demikian juga dengan orang lain di luar keluarganya. Hubungan tersebut harus dilandasi dengan pola-pola tertentu yang teratur, berdasarkan perasaan dan kewenangan dalam peranan, bahwa setiap posisi memiliki hak dan kewajiban tertentu.

Pengertian ini sangat diperlukan anak bila kelak sudah terjun di masyarakat, dan mengadakan hubungan dengan kelompok yang lebih besar di luar keluarganya. Pengawasan terhadap kelakuan dan pribadi anak sangat penting.

Kalau terjadi gejala yang menyimpang dari pola-pola yang ditentukan maka sebaiknya orang tua cepat memperingatkan dan berusaha mengembalikannya ke jalan yang benar. Pengawasan sosial tidak dapat berdaya guna dan berhasil guna, kalau pihak keluarga atau orang tua tidak memberi teladan yang baik.

b. Teman Sepermainan

Teman sepermainan sangat penting juga dalam rangka sosialisasi atau pembentukan kepribadian anak. Mempersamakan diri sendiri dengan teman sepermainan merupakan salah satu mekanisme penting di dalam perkembangan tingkah laku.

Mereka saling meniru dan selalu belajar dari segala apa yang dilihatnya dari teman sepermainannya yang umumnya berusia sebaya. Kemudian timbullah kesadaran dalam diri anak tentang orang lain di sekitarnya.

Pada saat itulah kehadiran dan pembentukan kepribadian dimulai. Mempersamakan diri sendiri dengan orang lain merupakan salah satu mekanisme penting dalam perkembangan yang terus-menerus dari tingkah laku manusia.

Beberapa ahli mengemukakan pendapatnya tentang kedirian sebagai berikut.
1) Cooley, mengemukakan bahwa kedirian yang objektif banyak diperoleh dari orang lain;
2) Frend, mengingatkan pada suatu kenyataan bahwa kedirian itu boleh dikatakan sebagai hasil konflik yang terus-menerus dialami seseorang dengan lingkungan sosialnya;
3) Goffman salah seorang tokoh kontemporer mengalihkan kedirian dengan kepribadian. Kepribadian itu terbentuk dan mengalami perubahan sewaktu proses sosialisasi berlangsung; dan
4) Mead mengemukakan bahwa kedirian itu memiliki suatu aspek kreatif dan spontan.

Faktor-faktor penting yang mempengaruhi pembentukan kepribadian sebagai berikut.
1) Lingkungan geografis menimbulkan pengalaman-pengalaman yang berbeda pada seseorang dalam menyelaraskan dirinya terhadap keadaan alam.
2) Lingkungan kebudayaan menyebabkan partisipasi yang berbeda-beda coraknya di dalam lingkungan kebudayaan secara menyeluruh.
3) Warisan biologis menimbulkan faktor-faktor variasi individu dalam hal mentalis, tampang jasmani, dan kematangan pribadi.
4) Lingkungan sosial menyebabkan partisipasi yang berlainan coraknya di dalam kehidupan kelompok.

c. Lingkungan Sekolah

Lingkungan sekolah sangat berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian anak. Di lingkungan sekolah para siswa dapat lebih berkembang ilmu pengetahuan dan keterampilannya melalui mata pelajaran berbagai bidang studi yang diajarkan oleh bapak/ibu guru.

d. Lingkungan Kerja

Lingkungan kerja seseorang dapat membentuk kepribadian seseorang. Proses sosialisasi tersebut dapat pula berlangsung pada lingkungan kerja dari masing-masing individu misalnya: di lingkungan ABRI, pedagang, pengusaha, nelayan, buruh, dan lain-lain.

e. Media Massa, Media Cetak, dan Media Komunikasi

Pada masa seperti sekarang ini, sebagian besar proses sosialisasi dilaksanakan atau menggunakan media massa yang terdiri atas media cetak dan media komunikasi. Lewat media cetak seperti majalah-majalah, surat kabar, terjadi proses sosialisasi antar-individu. Begitu pula lewat media komunikasi seperti lewat radio dan televisi, proses sosialisasi dapat berlangsung.

Metode yang Digunakan untuk Mempengaruhi Sosialisasi

Ada berbagai metode yang dipergunakan oleh masyarakat atau orang dewasa dalam mempengaruhi proses sosialisasi anak. Pada prinsipnya proses sosialisasi dapat digolongkan dalam dua kategori sebagai berikut.

a. Metode Ganjaran dan Hukuman

Tingkah laku anak yang baik, mendapatkan ganjaran. Ganjaran itu dapat bersifat materiil berupa benda-benda, atau dapat pula bersifat nonmateriil misalnya pujian, hak-hak khusus, dan lain-lain, sedangkan tingkah laku anak yang tidak baik atau tercela, mendapat hukuman.

Hukuman dapat berupa hukuman badan, misalnya pukulan. Dapat pula hukuman sosial, misalnya diasingkan atau dikucilkan. Dengan hukuman, anak menjadi sadar bahwa tingkah lakunya tidak baik dan ditolak oleh masyarakat.

Sebaliknya dengan ganjaran, anak menjadi sadar bahwa tingkah lakunya baik, terpuji, dan diterima oleh orang lain. Dengan proses ganjaran dan hukuman ini secara perlahan-lahan dalam diri anak tumbuh kesadaran nilai-nilai dan norma-norma sosial.

b. Metode Pemberian Contoh

Dengan pemberian contoh itu akan terjadi proses imitasi (peniruan) tingkah laku dan sifat-sifat orang dewasa oleh anak. Proses imitasi dapat terjadi secara sadar, dapat pula tidak disadari.
Proses imitasi tersebut berhubungan erat dengan proses identifikasi. Dengan identifikasi anak menyatukan diri secara psikis dengan orang lain dan anak berusaha meniru seperti orang lain.

Proses Belajar Sosial

Yang dimaksud proses belajar sosial adalah berlangsungnya kegiatan individu dalam proses belajar sosial untuk mempelajari bermacam-macam peranan sosial.

Yang disebut peranan sosial adalah tingkah laku yang diharapkan dari seseorang oleh kelompoknya, di mana tingkah laku tersebut ditentukan oleh kelompok atau kebudayaan.

Peranan sosial dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai posisi yang sangat diharapkan oleh anggota masyarakat lain.
Contoh:
a. Peranan sosial guru menimbulkan harapan bagi murid-muridnya.
b. Peranan orang tua menimbulkan harapan anak-anaknya.
c. Peranan sosial pemimpin perusahaan menimbulkan harapan bagi karyawan-karyawannya.

Masing-masing individu dalam masyarakat dapat memainkan bermacam-macam peranan sosial, peranan sebagai orang tua, warga negara, anggota kelompok agama, pekerja anggota partai politik, dan sebagainya. Peranan sosial tersebut akan berkembang sesuai dengan keadaan dan perkembangan individu dalam masyarakat.

Kebudayaan Dan Pengaruhnya Terhadap Kepribadian

Koentjaraningrat menyebutkan bahwa kata kebudayaan berasal dari kata Sanskerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti budi atau akal.

Jadi, dapat dikatakan kebudayaan bisa diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Koentjaraningrat menyatakan kepribadian adalah watak khas seseorang yang tampak dari luar sehingga orang luar memberikan kepadanya suatu identitas khusus.

Identitas khusus tersebut diterima dari warga masyarakatnya. Jadi, terbentuknya kepribadian dipengaruhi oleh kebudayaan. Kepribadian suatu individu dipengaruhi oleh nilai-nilai dan norma-norma dalam sistem budaya dan juga sistem sosial yang telah diserap ke dalam dirinya melalui proses sosialisasi dan proses pembudayaan selama hidup sejak masa kecilnya.

Definisi Kebudayaan

Berikut ini definisi kebudayaan menurut para ahli.

E.B. Taylor
Suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, hukum, adat istiadat, serta kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

Kluckhohn dan Kelly
Semua rancangan hidup yang tercipta secara historis, baik yang eksplisit maupun implisit, rasional, irasional, yang ada pada suatu waktu sebagai pedoman yang potensial untuk perilaku manusia.

Kroeber
Keseluruhan realita gerak, kebiasaan, tata cara, gagasan, dan nilai-nilai yang dipelajari dan diwariskan, dan perilaku yang ditimbulkannya.

Herskovits
Bagian dari lingkungan hidup yang diciptakan oleh manusia.

Selo Soemardjan dan Soeleman Soemardi
Semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Koentjaraningrat
Keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.

Wujud Kebudayaan dan Unsur Kebudayaan

J.J. Hoenigman membedakan ada tiga wujud kebudayaan sebagai berikut.

a. Gagasan
Wujud ideal kebudayaan yang berupa kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya. Sifatnya abstrak, tidak dapat diraba, dan tidak dapat disentuh.

Wujud kebudayaan ini terletak di alam pikiran warga masyarakat tersebut. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku- buku hasil karya para penulis.

Zaman sekarang kebudayaan ideal banyak juga yang tersimpan di dalam arsip, disket, compact disc, microfilm, pita komputer, dan lain-lain.

b. Aktivitas
Wujud kebudayaan sebagai suatu aktivitas serta tindakan berpola dari manusia di masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri atas aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya.

c. Artefak
Wujud kebudayaan fisik yang paling konkret berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya manusia di masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan.

Koentjaraningrat dengan mengacu pada pendapat Kluckhohn menggolongkan unsur-unsur pokok yang ada pada tiap kebudayaan dunia sebagai berikut.
1) Bahasa
2) Sistem pengetahuan
3) Organisasi sosial
4) Sistem peralatan hidup dan teknologi
5) Sistem mata pencaharian hidup
6) Sistem religi
7) Kesenian

Tiap-tiap unsur kebudayaan universal itu menjelma dalam ketiga wujud kebudayaan di atas, yakni gagasan, aktivitas, dan artefak.


Komponen Kebudayaan

Berdasarkan wujudnya kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen sebagai berikut.

a. Kebudayaan Material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata dan konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi, seperti mangkuk tanah liat, perhiasan, senjata, dan lain-lain. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, dan gedung.

b. Kebudayaan Nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial, yaitu ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi. Inilah denyut nadi kehidupan sosial.

Kebudayaan dan Pengaruhnya Terhadap Kepribadian

Kebudayaan merupakan karakter suatu masyarakat dan bukan karakter individual. Semua yang dipelajari dalam kehidupan sosial dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya merupakan kebudayaan.

Kebudayaan tidak bisa lepas dari kepribadian individu melalui suatu proses belajar yang panjang. Dalam proses belajar yang disebut sosialisasi itu, kepribadian individu pasti juga mempunyai pengaruh terhadap perkembangan kebudayaan itu secara keseluruhan.

Gagasan-gagasan, tingkah laku, atau tindakan manusia itu ditata, dikendalikan, dan dimantapkan pola-polanya oleh berbagai sistem nilai dan norma di masyarakatnya.

Sebaliknya, kebudayaan di masyarakat turut memberikan sumbangan pada pembentukan kepribadian seseorang. Kepribadian suatu individu masyarakat, walaupun berbeda-beda distimulasi dan dipengaruhi oleh nilai-nilai dan norma-norma dalam sistem budaya dan juga oleh sistem sosial yang telah diinternalisasinya melalui proses sosialisasi dan proses pembudayaan selama hidup sejak masa kecilnya sampai tua.

Kepribadian ada yang selaras dan ada yang tidak selaras dengan lingkungan alam serta sosial. Pembentukan watak banyak dipengaruhi oleh pengalamannya ketika sebagai anak-anak yang berada dalam asuhan orang-orang terdekat di lingkungannya, yaitu ayahnya, ibunya, kakaknya, dan individu lainnya yang berada di sekelilingnya.

Suatu kebudayaan sering memancarkan suatu watak khas tertentu yang tampak dari luar. Watak inilah yang terlihat oleh orang asing. Watak khas itu sering tampak pada gaya tingkah laku masyarakatnya, kegemaran-kegemaran mereka, dan berbagai benda budaya hasil karya mereka.

Demikianlah pembahasan tentang Pengertian Sosialisasi : Fungsi, Tahap-Tahap, Jenis-Jenis Media Sosialisasi, Proses Pembentukan dan Dasar Kepribadian, semoga dapat membantu dan bermanfaat.
Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

0 Response to "Pengertian Sosialisasi : Fungsi, Media, Proses Pembentukan dan Dasar Kepribadian"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel